Hari ini adalah hari pertama Nayla memasuki SMA Pelita setelah resmi lulus dalam ujian seleksi dan hari ini juga MOS berlangsung. Nayla dengan semangatnya memasuki gedung SMA Pelita, ia melihat banyak siswa kelas 10 yang dicegat akibat tidak memakai seragam yang lengkap dan tiba-tiba seorang lelaki yang tingginya sekitar 175 dengan kulitnya yang kecoklatan menghampiri Nayla.
"Kanayla Dharmawan, kan?" tanyanya.
Nayla tahu bahwa orang yang ada didepannya adalah bagian dari anak-anak OSIS. Lelaki ini memakai blazer berwarna hitam dengan lambang sekolah berwarna biru. "Iya, ko kaka tau nama saya?"
Lelaki itu membukukkan badannya agar setara dengan Nayla yang tingginya hanya 156cm. "IQ lo rendah ya?" lelaki itu melirik ke arah nama yang terpasang di seragam Nayla. Lelaki itu kembali berdiri normal kemudian berbisik "Gue Radit, ketua OSIS," ia kemudian pergi bergabung dengan rekan-rekan OSIS meninggalkan Nayla yang terlihat bingung dengan kelakuan Radit.
Nayla berbaris dikelas X-5, ia juga sekelas dengan sahabatnya sejak SMP yaitu Aby dan Sarah. Nayla berdiri dibarisan kedua tepat didepan Sarah dan samping Aby. Ketua OSIS yang tidak lain adalah Radit, memberikan sambutannya sambil sesekali melirik kearah Nayla. Sarah yang daritadi memperhatikan Radit pun sesekali mengernyitkan kening.
"Lo kenal sama ketua OSIS, Nay?" tanya Sarah ketika memasuki kelas untuk materi MOS.
"Ka Radit? Engga sih, cuma tadi dia nyamperin gue gitu di gerbang sekolah" jawab Nayla sambil berbisik sepelan mungkin agar tidak terdengar oleh senior.
Setelah satu jam, bel istirahat pun berbunyi. Nayla pamit memisahkan diri dari Aby dan Sarah. Nayla pergi ke taman sekolah yang sedaritadi mencuri perhatiannya. Ia duduk dikursi taman, tiba-tiba pikirannya tertuju pada Dimas.
"Eh, Nay, taman di sekolah ka Dimas udah jadi loh..." Dimas yang baru datang dari sekolah memasuki kamar Nayla dengan rusuhnya duduk dikasur bersebelahan dengan Nayla. "Nanti kapan-kapan kita main bareng disana yuk, tamannya enak loh Nay."
Nayla melirik ke arah kakanya yang begitu exited menceritakan taman sekolah. "Duh ka Dimas, sebagus apa sih emang? Palingan juga masih bagusan taman komplek, ya kan?"
"Bawel kamu, de. Nanti juga kalo kamu masuk SMA Pelita pasti kamu suka sama tamannya."
Tanpa disadari Nayla menitihkan airmata, Dimas memang benar, taman ini cukup indah dan sangat luas. Disudut taman terdapat tempat bermain basket, khusus untuk belajar shooting karena lapangannya tidak seluas yang ada ditengah sekolah. Nayla tahu betul bahwa kakanya lah yang menyarankan lapangan basket disudut taman karena Dimas seringkali mengeluh soal siswa yang masuk team tapi shootingnya buruk.
"Nih," seseorang menjulurkan saputangan kedepan wajah Nayla. "Lo ga seharusnya nangis dihari pertama MOS, kalo guru-guru ngiranya lo abis disiksa gimana?" seseorang yang ternyata Radit itu tertawa pelan, seolah tahu bahwa Nayla tidak akan menanggapi.
"Gue....."
Radit memotong ucapan Nayla. "Nay, setiap orang yang pergi pasti ninggalin kenangan," Radit menghela nafas kemudian menepuk pundak Nayla. "Ga peduli seindah atau sepahit apapun kenangan, kita cuma boleh mengingat tanpa harus menyesali. Life goes on, Nay."
Suara bel tanda masuk berbunyi meleburkan kecanggungan yang sedaritadi dirasakan Nayla.
***
Nayla menghempaskan tubuhnya ke sofa lembut dari bahan beludru berwarna merah. Ia terlihat sangat lelah karena MOS yang ia ikuti. Mukanya kucel, kantung matanya membiru dan lingkaran biru seperti lebam menghiasi lengannya. Sejak kecil, Nayla selalu dimanja oleh kedua orangtuanya apalagi Dimas. Nayla dilarang melakukan hal yang menguras tenanganya terlalu banyak, Nayla terkadang merasa risih dengan perlakuan keluarganya yang menjaganya seperti anak umur 5tahun namun Nayla mengerti mereka hanyak tidak ingin Nayla terluka.
Sejak kepergian Dimas setengah tahun lalu, Nayla tidak memiliki teman dirumah. Kedua orangtuanya sibuk bekerja, sedangkan dirumah hanya ada 2orang pembantu serta supirnya. Orangtua Nayla sengaja memperkerjakan seorang supir khusus untuk Nayla setelah kepergian Dimas karena biasanya Dimas lah yang mengantar-jemput Nayla setiap saat. Kalian tak akan pernah tahu betapa berharganya seseorang sebelum seseorang itu pergi menjauh dari kita. Sakit, mungkin itu perasaan yang menggeluti hati Nayla. Dimas Putra Dharmawan adalah satu-satunya lelaki yang mengisi hidup Nayla sebelum ia mengenal Aby. Memiliki seorang kaka seperti Dimas membuat Nayla merasa tidak butuh dekat dengan lelaki lain meskipun lelaki itu teman sebayanya.
Nayla mulai mengenal Aby setelah kepergian kakanya. Aby termasuk siswa teladan ketika SMP, ia aktif dalam berbagai kegiatan dan pandai dalam pergaulan. Aby hampir menyerupai Dimas namun dalam fisik yang berbeda. Aby bertubuh tinggi dengan badan yang ideal, kulit putih dan bola mata yang berwarna coklat pekat sangat berbeda dengan Dimas yang berkulit coklat dan bola mata berwarna hitam.
"De Nayla, ada tamu," kata seorang pembantu yang akrab disapa 'Mba Iyah' ini
"Dari siapa mba?"
"Hai, Naay!!" teriak seorang lelaki dari belakang punggung Nayla. Yap, lelaki itu adalah Aby.
Aby duduk disamping Nayla sambil menyodorkan sebuket bunga mawar putih kesukaan Nayla.
Pipi Nayla memerah, ia menatap Aby dengan wajahnya yang lesu "Makasih ya, By"
"Lo sakit? Istirahat gih. Gue juga mau langsung balik hehe biasa main game online"
"Heran ya sama kamu, By'
"Heran gimana?" Aby mengangkat alis sebelah kanannnya dan sukses membuat Nayla tertawa. Muka Aby terlihat amat songong!
"Orang-orang mana ada yang ngira kalo lo penyuka game online. Lo pinter banget dan sibuk banget tapi masih punya waktu buat mainan."
"Nay, setiap orang butuh kesenangan dan ketenangan. Kesenangan gue dapet dari mainan game, dan ketenangan gue dapetin tiap deket sm lo"
Nayla tersenyum sesekali melirik ke arah Aby. Andai tidak dipertemukan sebagai sahabat, mungkin aku akan menyayangimu lebih dari ini. Aku pernah dengar seseorang berkata 'Hal yang terbaik untuk mempertahankan orang yang kamu sayangi adalah dengan menganggapnya sebagai sahabat' dan ya, aku mempertahankanmu, By. Suara hati Nayla berbicara.
Sejak kepergian Dimas setengah tahun lalu, Nayla tidak memiliki teman dirumah. Kedua orangtuanya sibuk bekerja, sedangkan dirumah hanya ada 2orang pembantu serta supirnya. Orangtua Nayla sengaja memperkerjakan seorang supir khusus untuk Nayla setelah kepergian Dimas karena biasanya Dimas lah yang mengantar-jemput Nayla setiap saat. Kalian tak akan pernah tahu betapa berharganya seseorang sebelum seseorang itu pergi menjauh dari kita. Sakit, mungkin itu perasaan yang menggeluti hati Nayla. Dimas Putra Dharmawan adalah satu-satunya lelaki yang mengisi hidup Nayla sebelum ia mengenal Aby. Memiliki seorang kaka seperti Dimas membuat Nayla merasa tidak butuh dekat dengan lelaki lain meskipun lelaki itu teman sebayanya.
Nayla mulai mengenal Aby setelah kepergian kakanya. Aby termasuk siswa teladan ketika SMP, ia aktif dalam berbagai kegiatan dan pandai dalam pergaulan. Aby hampir menyerupai Dimas namun dalam fisik yang berbeda. Aby bertubuh tinggi dengan badan yang ideal, kulit putih dan bola mata yang berwarna coklat pekat sangat berbeda dengan Dimas yang berkulit coklat dan bola mata berwarna hitam.
"De Nayla, ada tamu," kata seorang pembantu yang akrab disapa 'Mba Iyah' ini
"Dari siapa mba?"
"Hai, Naay!!" teriak seorang lelaki dari belakang punggung Nayla. Yap, lelaki itu adalah Aby.
Aby duduk disamping Nayla sambil menyodorkan sebuket bunga mawar putih kesukaan Nayla.
Pipi Nayla memerah, ia menatap Aby dengan wajahnya yang lesu "Makasih ya, By"
"Lo sakit? Istirahat gih. Gue juga mau langsung balik hehe biasa main game online"
"Heran ya sama kamu, By'
"Heran gimana?" Aby mengangkat alis sebelah kanannnya dan sukses membuat Nayla tertawa. Muka Aby terlihat amat songong!
"Orang-orang mana ada yang ngira kalo lo penyuka game online. Lo pinter banget dan sibuk banget tapi masih punya waktu buat mainan."
"Nay, setiap orang butuh kesenangan dan ketenangan. Kesenangan gue dapet dari mainan game, dan ketenangan gue dapetin tiap deket sm lo"
Nayla tersenyum sesekali melirik ke arah Aby. Andai tidak dipertemukan sebagai sahabat, mungkin aku akan menyayangimu lebih dari ini. Aku pernah dengar seseorang berkata 'Hal yang terbaik untuk mempertahankan orang yang kamu sayangi adalah dengan menganggapnya sebagai sahabat' dan ya, aku mempertahankanmu, By. Suara hati Nayla berbicara.

Post a Comment