Hujan turun dengan deras menahan kepulangan Nayla yang sedaritadi berada di Kopitiam. Aroma kopi dan rasa kopi memang membawa ketenangan tersindiri bagi Nayla. Secangkir kopi mampu membangkitkan sebuah kenangan, membuat perasaan menjadi tenang meskipun terkadang rasa pahitnya sedikit menyesakkan. Seperti hidup, terkadang hidup tiada artinya bila terus bahagia, terkadang ada saatnya kita harus mengenal 'sakit'. Bukankah rasa sakit yang akhirnya membuat kita semakin dewasa? Bukankah rasa sakit juga yang nantinya menghantarkan kita kepada mereka yang akan menghapusnya? Seperti sakit yang Nayla rasa akhirnya menghantarkan Aby padanya.
"Lo nunggu dijemput?" tanya seorang cowo yang berdiri dihadapan Nayla.
Nayla mendengak keatas dengan ragu. Yap. Cowo yang selalu dateng tiba-tiba sejak di masuk SMA Pelita kini ada dihadapannya; Radit. "Iya," jawab Nayla seperlunya.
"Bokap sama nyokap lo pulangnya masih lama, belum lagi kalo kejebak macet. Engga mau bareng gue aja?"
"Bentar. Lo sebenernya siapa sih?"
"Lupa? Gue Radit, kaka kelas lo"
"Maksud gue itu lo ada hubungan apa sama gue? Gue heran yaa dari pas pertama kali lo cegat gue di gerbang, muncul tiba-tiba ditaman dan ucapan lo di taman itu........"
"Ribet, ya. Gue balik duluan deh. Hati-hati ya, bye" tanpa menjawab pertanyaan Nayla, Radit berbalik menghilang dari pandangan Nayla.
Radit adalah cowo aneh yang Nayla kenal sejak duduk di bangku SMA. Radit seorang kaka kelas dengan gayanya yang cool, kalem, dan senyum manis yang jarang ia pamerkan itu terkadang membuat Nayla heran. Ia datang tiba-tiba kemudian pergi dengan tergesa-gesa meninggalkan teka-teki, Nayla menaruh banyak pertanyaan pada Radit namun semakin ia berusaha mencari tahu, Radit pun semakin membungkam.
Nayla kembali menunggu sambil sesekali melihat kearah jam, sudah hampir sejam dan hujan tak kunjung berhenti. Ia memandangi homescreen di handphone-nya sebelum akhirna nama 'Dwi Aby Santoso' muncul di layar.
"Halo, By" sapa Nayla dengan lembut
"Nay, Aby di parkiran Kopitiam. Turun sini, kita pulang bareng." kata Aby seraya menutup telponnya dan Nayla pun buru-buru turun ke parkiran Kopitiam dengan tampang heran. Aby? Ko tau? Ah.....
***
Radit
Kanayla Dharmawan, seorang cewe setinggi 156 dengan kulitnya yang putih dan rambut sebahu yang terurai adalah cewe yang memiliki kepribadian menarik buat gue. Nayla juga termasuk cewe yang manja namun dia kuat. Kuat ketika harus menerima kenyataan bahwa Dimas pergi, kuat ketika hampir seluruh hal disekitarnya membangkitkan kenangan tentang Dimas, ia mungkin menangis tapi tak lama kemudian ia menghapusnya dan tangisan berubah menjadi senyuman.
Sore ini, gue memutuskan untuk pergi ke Kopitiam untuk sekedar refreshing kecil karena stress akibat tugas-tugas yang gue handle belakangan ini. Sore itu, gue melihat sesosok cewe yang ga asing menurut gue sedang duduk menyeruput kopinya. Nayla, tebak gue dan benar! Gue duduk disebelahnya, memperhatikannya dari jarak yang lumayan dekat sebelum akhirnya ia menyadari kehadiran gue dan gue pun berdiri dihadapannya.
Dengan spontan, gue nawarin dia pulang dan tanpa gue duga dia malah ngungkit soal siapa sebenernya gue ini. Nayla emang ga tau kalo Dimas adalah teman sekaligus seorang kaka buat gue dan gue pun gamau Nayla tahu soal itu. Saat itu juga gue menyimpulkan bahwa Nayla emang ragu pulang bareng sama gue, akhirnya gue pergi ke parkiran dan masuk ke mobil kemudia meng-search nama 'Adik Aby' di kontak.
"By?"
"Iya bang?"
"Lo ke Kopitiam deh sekarang, jemput Nayla"
"Oke, bang"
Setelah percakapan melalui telpon dengan Aby, gue masih berada di parkiran Kopitiam hingga setengah jam kemudian sebuah mobil juke merah berada diparkiran Kopitiam. "Gue beruntung punya adik kaya lo, By" kata gue melalui kaca mobil seraya pergi meninggalkan parkiran.
***
Nayla
"Kok lo tau gue di Kopitiam?" tanyaku ketika masuk kedalam mobil.
Aby menatapku dan tersenyum, "Lo udah nonton perahu kertas belum?"
"Udah, kenapa emang? Lo mau bilang kalo kita punya radar neptunus gitu, By?" kataku dengan mata yang membulat.
"Itu sih lo tau, Nay. Ah gue tau ko kalo lo seneng punya rada neptunus bareng gue," guraunya kemudian menggas mobil.
Suasana di mobil begitu tenang didukung suara David Cook dengan lagunya yang berjudul Always be My Baby dan hujan yang turun. Seringkali aku melirik kearah Aby yang sedang menyetir dengan kalem menikmati lagu yang diputar. Entah mengapa, aku begitu menyukai sosok Aby, ia begitu hangat. Aku menemukan sosok Dimas dalam diri Aby, aku bahkan tak percaya dengan skenario Tuhan yang memisahkanku dengan Dimas dan tiba-tiba mempertemukanku dengan sosok Aby. Aby merupakan murid teladan di SMP, ia aktif dalam berbagai organisasi dan ramah, mungkin itu alasanku menyukainya, tak peduli seberapa sibuknya kegiatan yang ia miliki, ia tetap mampu bergaul dengan baik di lingkunannya tanpa harus terlihat seperi Mr.Busy bagi teman-temannya.
Langit berubah menjadi gelap, aku dan Aby masih terjebak dalam macetnya kota Cirebon menjelang tahun baru. Macet kali ini sukses membuat Aby sedikit jengkel, wajahnya mengkerut dan hampir tiap detik berkata "Duh...." ia sangat tidak suka dengan kemacetan.
"Maaf ya. By" kataku menundukan kepala, merasa bersalah.
"Maaf kenapa, Nay?"
"Coba kalo lo ga jemput gue dulu pasti lo ga akan kejebak macet gini."
Aby tertawa sambil memegang daguku dan mengangkat wajahku, "Nayla, ini bukan salah lo ko. Gue emang lagi diluar dan gue juga ga akan tega kali ngebiarin lo nunggu disana, mana hujan lagi," ujarnya dengan hangat. "Sorry ya gara-gara gue ngeluh sama macet terus lo jadi ga enakan gini. Gue emang gasuka macet, Nay, dan lo tau itu, kan?"
Yeah. I know you better than anyone else, By....
