Part 2

Posted Monday, December 31, 2012 by ♕S Rayhantisa Anbar

   Hujan turun dengan deras menahan kepulangan Nayla yang sedaritadi berada di Kopitiam. Aroma kopi dan rasa kopi memang membawa ketenangan tersindiri bagi Nayla. Secangkir kopi mampu membangkitkan sebuah kenangan, membuat perasaan menjadi tenang meskipun terkadang rasa pahitnya sedikit menyesakkan. Seperti hidup, terkadang hidup tiada artinya bila terus bahagia, terkadang ada saatnya kita harus mengenal 'sakit'. Bukankah rasa sakit yang akhirnya membuat kita semakin dewasa? Bukankah rasa sakit juga yang nantinya menghantarkan kita kepada mereka yang akan menghapusnya? Seperti sakit yang Nayla rasa akhirnya menghantarkan Aby padanya.
   "Lo nunggu dijemput?" tanya seorang cowo yang berdiri dihadapan Nayla.
    Nayla mendengak keatas dengan ragu. Yap. Cowo yang selalu dateng tiba-tiba sejak di masuk SMA Pelita kini ada dihadapannya; Radit. "Iya," jawab Nayla seperlunya.
   "Bokap sama nyokap lo pulangnya masih lama, belum lagi kalo kejebak macet. Engga mau bareng gue aja?"
   "Bentar. Lo sebenernya siapa sih?"
   "Lupa? Gue Radit, kaka kelas lo"
   "Maksud gue itu lo ada hubungan apa sama gue? Gue heran yaa dari pas pertama kali lo cegat gue di gerbang, muncul tiba-tiba ditaman dan ucapan lo di taman itu........"
   "Ribet, ya. Gue balik duluan deh. Hati-hati ya, bye" tanpa menjawab pertanyaan Nayla, Radit berbalik menghilang dari pandangan Nayla.
   Radit adalah cowo aneh yang Nayla kenal sejak duduk di bangku SMA. Radit seorang kaka kelas dengan gayanya yang cool, kalem, dan senyum manis yang jarang ia pamerkan itu terkadang membuat Nayla heran. Ia datang tiba-tiba kemudian pergi dengan tergesa-gesa meninggalkan teka-teki, Nayla menaruh banyak pertanyaan pada Radit namun semakin ia berusaha mencari tahu, Radit pun semakin membungkam.
    Nayla kembali menunggu sambil sesekali melihat kearah jam, sudah hampir sejam dan hujan tak kunjung berhenti. Ia memandangi homescreen di handphone-nya sebelum akhirna nama 'Dwi Aby Santoso' muncul di layar.
    "Halo, By" sapa Nayla dengan lembut
   "Nay, Aby di parkiran Kopitiam. Turun sini, kita pulang bareng." kata Aby seraya menutup telponnya dan Nayla pun buru-buru turun ke parkiran Kopitiam dengan tampang heran. Aby? Ko tau? Ah.....
***
   Radit

   Kanayla Dharmawan, seorang cewe setinggi 156 dengan kulitnya yang putih dan rambut sebahu yang terurai adalah cewe yang memiliki kepribadian menarik buat gue. Nayla juga termasuk cewe yang manja namun dia kuat. Kuat ketika harus menerima kenyataan bahwa Dimas pergi, kuat ketika hampir seluruh hal disekitarnya membangkitkan kenangan tentang Dimas, ia mungkin menangis tapi tak lama kemudian ia menghapusnya dan tangisan berubah menjadi senyuman.
   Sore ini, gue memutuskan untuk pergi ke Kopitiam untuk sekedar refreshing kecil karena stress akibat tugas-tugas yang gue handle belakangan ini. Sore itu, gue melihat sesosok cewe yang ga asing menurut gue sedang duduk menyeruput kopinya. Nayla, tebak gue dan benar! Gue duduk disebelahnya, memperhatikannya dari jarak yang lumayan dekat sebelum akhirnya ia menyadari kehadiran gue dan gue pun berdiri dihadapannya.
   Dengan spontan, gue nawarin dia pulang dan tanpa gue duga dia malah ngungkit soal siapa sebenernya gue ini. Nayla emang ga tau kalo Dimas adalah teman sekaligus seorang kaka buat gue dan gue pun gamau Nayla tahu soal itu. Saat itu juga gue menyimpulkan bahwa Nayla emang ragu pulang bareng sama gue, akhirnya gue pergi ke parkiran dan masuk ke mobil kemudia meng-search nama 'Adik Aby' di kontak.
   "By?"
   "Iya bang?"
   "Lo ke Kopitiam deh sekarang, jemput Nayla"
   "Oke, bang"
   Setelah percakapan melalui telpon dengan Aby, gue masih berada di parkiran Kopitiam hingga setengah jam kemudian sebuah mobil juke merah berada diparkiran Kopitiam. "Gue beruntung punya adik kaya lo, By" kata gue melalui kaca mobil seraya pergi meninggalkan parkiran.
***
   Nayla
   
   "Kok lo tau gue di Kopitiam?" tanyaku ketika masuk kedalam mobil.
   Aby menatapku dan tersenyum, "Lo udah nonton perahu kertas belum?"
   "Udah, kenapa emang? Lo mau bilang kalo kita punya radar neptunus gitu, By?" kataku dengan mata yang membulat.
   "Itu sih lo tau, Nay. Ah gue tau ko kalo lo seneng punya rada neptunus bareng gue," guraunya kemudian menggas mobil.
   Suasana di mobil begitu tenang didukung suara David Cook dengan lagunya yang berjudul Always be My Baby dan hujan yang turun. Seringkali aku melirik kearah Aby yang sedang menyetir dengan kalem menikmati lagu yang diputar. Entah mengapa, aku begitu menyukai sosok Aby, ia begitu hangat. Aku menemukan sosok Dimas dalam diri Aby, aku bahkan tak percaya dengan skenario Tuhan yang memisahkanku dengan Dimas dan tiba-tiba mempertemukanku dengan sosok Aby. Aby merupakan murid teladan di SMP, ia aktif dalam berbagai organisasi dan ramah, mungkin itu alasanku menyukainya, tak peduli seberapa sibuknya kegiatan yang ia miliki, ia tetap mampu bergaul dengan baik di lingkunannya tanpa harus terlihat seperi Mr.Busy bagi teman-temannya.
   Langit berubah menjadi gelap, aku dan Aby masih terjebak dalam macetnya kota Cirebon menjelang tahun baru. Macet kali ini sukses membuat Aby sedikit jengkel, wajahnya mengkerut dan hampir tiap detik berkata "Duh...." ia sangat tidak suka dengan kemacetan.
   "Maaf ya. By" kataku menundukan kepala, merasa bersalah.
   "Maaf kenapa, Nay?"
   "Coba kalo lo ga jemput gue dulu pasti lo ga akan kejebak macet gini."
   Aby tertawa sambil memegang daguku dan mengangkat wajahku, "Nayla, ini bukan salah lo ko. Gue emang lagi diluar dan gue juga ga akan tega kali ngebiarin lo nunggu disana, mana hujan lagi," ujarnya dengan hangat. "Sorry ya gara-gara gue ngeluh sama macet terus lo jadi ga enakan gini. Gue emang gasuka macet, Nay, dan lo tau itu, kan?"
   Yeah. I know you better than anyone else, By....
   
  


  
  
 

Part 1

Posted by ♕S Rayhantisa Anbar
6 bulan kemudian.....

   Hari ini adalah hari pertama Nayla memasuki SMA Pelita setelah resmi lulus dalam ujian seleksi dan hari ini juga MOS berlangsung. Nayla dengan semangatnya memasuki gedung SMA Pelita, ia melihat banyak siswa kelas 10 yang dicegat akibat tidak memakai seragam yang lengkap dan tiba-tiba seorang lelaki yang tingginya sekitar 175 dengan kulitnya yang kecoklatan menghampiri Nayla.
   "Kanayla Dharmawan, kan?" tanyanya.
   Nayla tahu bahwa orang yang ada didepannya adalah bagian dari anak-anak OSIS. Lelaki ini memakai blazer berwarna hitam dengan lambang sekolah berwarna biru. "Iya, ko kaka tau nama saya?"
   Lelaki itu membukukkan badannya agar setara dengan Nayla yang tingginya hanya 156cm. "IQ lo rendah ya?" lelaki itu melirik ke arah nama yang terpasang di seragam Nayla. Lelaki itu kembali berdiri normal kemudian berbisik "Gue Radit, ketua OSIS," ia kemudian pergi bergabung dengan rekan-rekan OSIS meninggalkan Nayla yang terlihat bingung dengan kelakuan Radit.
   Nayla berbaris dikelas X-5, ia juga sekelas dengan sahabatnya sejak SMP yaitu Aby dan Sarah. Nayla berdiri dibarisan kedua tepat didepan Sarah dan samping Aby. Ketua OSIS yang tidak lain adalah Radit, memberikan sambutannya sambil sesekali melirik kearah Nayla. Sarah yang daritadi memperhatikan Radit pun sesekali mengernyitkan kening.
   "Lo kenal sama ketua OSIS, Nay?" tanya Sarah ketika memasuki kelas untuk materi MOS.
   "Ka Radit? Engga sih, cuma tadi dia nyamperin gue gitu di gerbang sekolah" jawab Nayla sambil berbisik sepelan mungkin agar tidak terdengar oleh senior.
    Setelah satu jam, bel istirahat pun berbunyi. Nayla pamit memisahkan diri dari Aby dan Sarah. Nayla pergi ke taman sekolah yang sedaritadi mencuri perhatiannya. Ia duduk dikursi taman, tiba-tiba pikirannya tertuju pada Dimas.

   "Eh, Nay, taman di sekolah ka Dimas udah jadi loh..." Dimas yang baru datang dari sekolah memasuki kamar Nayla dengan rusuhnya duduk dikasur bersebelahan dengan Nayla. "Nanti kapan-kapan kita main bareng disana yuk, tamannya enak loh Nay."
   Nayla melirik ke arah kakanya yang begitu exited menceritakan taman sekolah. "Duh ka Dimas, sebagus apa sih emang? Palingan juga masih bagusan taman komplek, ya kan?"
   "Bawel kamu, de. Nanti juga kalo kamu masuk SMA Pelita pasti kamu suka sama tamannya."

   Tanpa disadari Nayla menitihkan airmata, Dimas memang benar, taman ini cukup indah dan sangat luas. Disudut taman terdapat tempat bermain basket, khusus untuk belajar shooting karena lapangannya tidak seluas yang ada ditengah sekolah. Nayla tahu betul bahwa kakanya lah yang menyarankan lapangan basket disudut taman karena Dimas seringkali mengeluh soal siswa yang masuk team tapi shootingnya buruk.
   "Nih," seseorang menjulurkan saputangan kedepan wajah Nayla. "Lo ga seharusnya nangis dihari pertama MOS, kalo guru-guru ngiranya lo abis disiksa gimana?" seseorang yang ternyata Radit itu tertawa pelan, seolah tahu bahwa Nayla tidak akan menanggapi.
   "Gue....."
   Radit memotong ucapan Nayla. "Nay, setiap orang yang pergi pasti ninggalin kenangan," Radit menghela nafas kemudian menepuk pundak Nayla. "Ga peduli seindah atau sepahit apapun kenangan, kita cuma boleh mengingat tanpa harus menyesali. Life goes on, Nay."
   Suara bel tanda masuk berbunyi meleburkan kecanggungan yang sedaritadi dirasakan Nayla.

***
   Nayla menghempaskan tubuhnya ke sofa lembut dari bahan beludru berwarna merah. Ia terlihat sangat lelah karena MOS yang ia ikuti. Mukanya kucel, kantung matanya membiru dan lingkaran biru seperti lebam menghiasi lengannya. Sejak kecil, Nayla selalu dimanja oleh kedua orangtuanya apalagi Dimas. Nayla dilarang melakukan hal yang menguras tenanganya terlalu banyak, Nayla terkadang merasa risih dengan perlakuan keluarganya yang menjaganya seperti anak umur 5tahun namun Nayla mengerti mereka hanyak tidak ingin Nayla terluka.
   Sejak kepergian Dimas setengah tahun lalu, Nayla tidak memiliki teman dirumah. Kedua orangtuanya sibuk bekerja, sedangkan dirumah hanya ada 2orang pembantu serta supirnya. Orangtua Nayla sengaja memperkerjakan seorang supir khusus untuk Nayla setelah kepergian Dimas karena biasanya Dimas lah yang mengantar-jemput Nayla setiap saat. Kalian tak akan pernah tahu betapa berharganya seseorang sebelum seseorang itu pergi menjauh dari kita. Sakit, mungkin itu perasaan yang menggeluti hati Nayla. Dimas Putra Dharmawan adalah satu-satunya lelaki yang mengisi hidup Nayla sebelum ia mengenal Aby. Memiliki seorang kaka seperti Dimas membuat Nayla merasa tidak butuh dekat dengan lelaki lain meskipun lelaki itu teman sebayanya.
   Nayla mulai mengenal Aby setelah kepergian kakanya. Aby termasuk siswa teladan ketika SMP, ia aktif dalam berbagai kegiatan dan pandai dalam pergaulan. Aby hampir menyerupai Dimas namun dalam fisik yang berbeda. Aby bertubuh tinggi dengan badan yang ideal, kulit putih dan bola mata yang berwarna coklat pekat sangat berbeda dengan Dimas yang berkulit coklat dan bola mata berwarna hitam.
   "De Nayla, ada tamu," kata seorang pembantu yang akrab disapa 'Mba Iyah' ini
   "Dari siapa mba?"
    "Hai, Naay!!" teriak seorang lelaki dari belakang punggung Nayla. Yap, lelaki itu adalah Aby.
   Aby duduk disamping Nayla sambil menyodorkan sebuket bunga mawar putih kesukaan Nayla.
   Pipi Nayla memerah, ia menatap Aby dengan wajahnya yang lesu "Makasih ya, By"
   "Lo sakit? Istirahat gih. Gue juga mau langsung balik hehe biasa main game online"
   "Heran ya sama kamu, By'
   "Heran gimana?"  Aby mengangkat alis sebelah kanannnya dan sukses membuat Nayla tertawa. Muka Aby terlihat amat songong!
   "Orang-orang mana ada yang ngira kalo lo penyuka game online. Lo pinter banget dan sibuk banget tapi masih punya waktu buat mainan."
   "Nay, setiap orang butuh kesenangan dan ketenangan. Kesenangan gue dapet dari mainan game, dan ketenangan gue dapetin tiap deket sm lo"
   Nayla tersenyum sesekali melirik ke arah Aby. Andai tidak dipertemukan sebagai sahabat, mungkin aku akan menyayangimu lebih dari ini. Aku pernah dengar seseorang berkata 'Hal yang terbaik untuk mempertahankan orang yang kamu sayangi adalah dengan menganggapnya sebagai sahabat' dan ya, aku mempertahankanmu, By. Suara hati Nayla berbicara.